Kita sering mencari keramat yang tidak ada. Dan kita sering tertipu keramat yang bukan keramat.
Dengan maksud kita berziarah ke berbagai makam keramat, kita tujukan bagi hasilnya maksud dan hajat kita, kita tujukan bagi larisnya dagangan kita, tapi kita lupa, ada yang lebih berhak untuk dikunjungi, disilaturahmi, dan lebih pas untuk dimintai doa dan dukungannya, yaitu ORANG TUA kita.
Setelah Allah, maka yang pertama-tama kita “kunjungi” untuk setiap agenda permasalahan dan keinginan adalah orang tua kita. Bukan kuburan, bukan tempat keramat, dan bukan kyai apalagi dukun. Tempatkan orang tua kita di tempat yang istimewa, di tempat yang spesial. Bila ini kita bisa lakukan, Insya Allah, Allah pun akan mengistimewakan dan membuat kita spesial di mataNya.
Adakalanya sebagai anak, kita merasa punya pilihan sendiri; entah itu pilihan usaha, pekerjaan, sekolah, kuliah, ataupun pasangan hidup; dan tanpa sadar kita sering bertingkah arogan, menempuh jalan tanpa melibatkan ridha orang tua. Apakah hal ini bisa membawa berkah??
Melibatkan orang tua adalah dengan memberitahunya dan memohon doa darinya. Angkatlah telepon, bicaralah dengan mereka, sehingga mereka merasa dibutuhkan. Kalau mereka merasa dibutuhkan, maka mereka ini akan merasa senang.
Ridha Allah, ada di keridhaannya Orangtua. Kebencian Allah, ada di kebenciannya orang tua.
Terlalu hafal dan sering kita mendengarkan kalimat di atas tersebut, namun kesehariannya belum tentu kita menyenangkan, memberi kesenangan pada orangtua. Adalah wajar, bila urusan hati orangtua, urusan hubungan antara orang tua dengan kita sebagai anaknya, dimasukkan juga ke dalam salah satu renungan hidup untuk dikoreksi. Sebab, kesalahan kepada orangtua bisa memacetkan urusan hidup kita.
Ada banyak cerita kesusahan anak manusia yang terekam, ada banyak cerita keburaman anak manusia yang terpotret, ternyata semuanya bermuara dari perasaan sakitnya orang tua terhadap diri anaknya itu. Sehingga bolehlah kita khawatir, orangtua kita ternyata tidak sebahagia yang kita bayangkan. Apalagi bila kita sadar, ternyata kita pun ternyata banyak dosa dan kesalahannya sama orang tua.
Ketika orang tua kita begitu ikhlas merawat kita, begitu rela melewati masa krisis ketika melahirkan kita, lalu apa yang bisa kita berikan kepada mereka?? Teman, ketika kita kecil, ketika kita bayi apalagi, orangtua kita, terutama ibu, tidak akan pernah berpisah dari kita. Sekarang lihat, kita biarkan ayah dan ibu kita lebih banyak dalam kesepiannya di hari tua??? Berapa hari dalam seminggu kita luangkan waktu kita untuk mereka??, Berapa minggu dalam sebulan kita bawa anak cucunya ke pangkuannya??
Apakah karena mereka sudah kita berikan belanja setiap bulan atau pakaian yang bagus itu semua menjadi cukup??, Apakah karena kita sudah berikan mereka rumah yang layak itu berarti menjadi cukup??
Teman, bagaimana kita memperlakukan orangtua, begitu pulalah kta diperlakukan oleh anak-anak kita kelak.
Teman, patut pula kita ingat, mertua adalah juga orang tua. Sebaik kita perlakukan orangtua, sebaik itu pula kita mesti menghargai dan memperlakukan mertua. Jangan pilih kasih, sama saja. Istri, suami, adalah sudah menjadi pakaian masing-masing. Kedua-duanya ketika hubungan tali kasih sudah diresmikan, sudah menjadikan bertambah orangtuanya.
Semoga kita ditakdirkan memiliki hubungan yang manis dengan orangtua kita, dan dimaafkan bila ada kesalahan dengan orangtua kita. Dan kita juga memohon kepada Allah SWT agar orangtua kita dibebaskan dari kesusahan dan penderitaan, diberikan kasih saying yang tak terhingga, dan diberkahi hidupnya dunia akhirat. Hanya kebaikan Allah saja yang bisa membayar semua jasa orangtua yang tidak akan pernah terbayar oleh anaknya.
Demikian teman, tulisan ini adalah renungan untuk kita semua. Bukan bermaksud menggurui, saduran ini adalah salah satu upaya saling menasihati dan mengingatkan. Ketika datang masalah atau cobaan setelah kita mendatangi Allah SWT, datangilah orangtua kita untuk meminta dukungan dan doanya. Insya Allah segala urusan menjadi mudah.
Terakhir, jujur diri dan koreksi diri, lalu adakan perbaikan. Semoga kesempatan selalu diberikan Allah SWT.
Sumber : Mansur, Yusuf, Temukan penyebabnya Temukan jawaban, Wisata Hati 2004.
Dengan maksud kita berziarah ke berbagai makam keramat, kita tujukan bagi hasilnya maksud dan hajat kita, kita tujukan bagi larisnya dagangan kita, tapi kita lupa, ada yang lebih berhak untuk dikunjungi, disilaturahmi, dan lebih pas untuk dimintai doa dan dukungannya, yaitu ORANG TUA kita.
Setelah Allah, maka yang pertama-tama kita “kunjungi” untuk setiap agenda permasalahan dan keinginan adalah orang tua kita. Bukan kuburan, bukan tempat keramat, dan bukan kyai apalagi dukun. Tempatkan orang tua kita di tempat yang istimewa, di tempat yang spesial. Bila ini kita bisa lakukan, Insya Allah, Allah pun akan mengistimewakan dan membuat kita spesial di mataNya.
Adakalanya sebagai anak, kita merasa punya pilihan sendiri; entah itu pilihan usaha, pekerjaan, sekolah, kuliah, ataupun pasangan hidup; dan tanpa sadar kita sering bertingkah arogan, menempuh jalan tanpa melibatkan ridha orang tua. Apakah hal ini bisa membawa berkah??
Melibatkan orang tua adalah dengan memberitahunya dan memohon doa darinya. Angkatlah telepon, bicaralah dengan mereka, sehingga mereka merasa dibutuhkan. Kalau mereka merasa dibutuhkan, maka mereka ini akan merasa senang.
Ridha Allah, ada di keridhaannya Orangtua. Kebencian Allah, ada di kebenciannya orang tua.
Terlalu hafal dan sering kita mendengarkan kalimat di atas tersebut, namun kesehariannya belum tentu kita menyenangkan, memberi kesenangan pada orangtua. Adalah wajar, bila urusan hati orangtua, urusan hubungan antara orang tua dengan kita sebagai anaknya, dimasukkan juga ke dalam salah satu renungan hidup untuk dikoreksi. Sebab, kesalahan kepada orangtua bisa memacetkan urusan hidup kita.
Ada banyak cerita kesusahan anak manusia yang terekam, ada banyak cerita keburaman anak manusia yang terpotret, ternyata semuanya bermuara dari perasaan sakitnya orang tua terhadap diri anaknya itu. Sehingga bolehlah kita khawatir, orangtua kita ternyata tidak sebahagia yang kita bayangkan. Apalagi bila kita sadar, ternyata kita pun ternyata banyak dosa dan kesalahannya sama orang tua.
Ketika orang tua kita begitu ikhlas merawat kita, begitu rela melewati masa krisis ketika melahirkan kita, lalu apa yang bisa kita berikan kepada mereka?? Teman, ketika kita kecil, ketika kita bayi apalagi, orangtua kita, terutama ibu, tidak akan pernah berpisah dari kita. Sekarang lihat, kita biarkan ayah dan ibu kita lebih banyak dalam kesepiannya di hari tua??? Berapa hari dalam seminggu kita luangkan waktu kita untuk mereka??, Berapa minggu dalam sebulan kita bawa anak cucunya ke pangkuannya??
Apakah karena mereka sudah kita berikan belanja setiap bulan atau pakaian yang bagus itu semua menjadi cukup??, Apakah karena kita sudah berikan mereka rumah yang layak itu berarti menjadi cukup??
Teman, bagaimana kita memperlakukan orangtua, begitu pulalah kta diperlakukan oleh anak-anak kita kelak.
Teman, patut pula kita ingat, mertua adalah juga orang tua. Sebaik kita perlakukan orangtua, sebaik itu pula kita mesti menghargai dan memperlakukan mertua. Jangan pilih kasih, sama saja. Istri, suami, adalah sudah menjadi pakaian masing-masing. Kedua-duanya ketika hubungan tali kasih sudah diresmikan, sudah menjadikan bertambah orangtuanya.
Semoga kita ditakdirkan memiliki hubungan yang manis dengan orangtua kita, dan dimaafkan bila ada kesalahan dengan orangtua kita. Dan kita juga memohon kepada Allah SWT agar orangtua kita dibebaskan dari kesusahan dan penderitaan, diberikan kasih saying yang tak terhingga, dan diberkahi hidupnya dunia akhirat. Hanya kebaikan Allah saja yang bisa membayar semua jasa orangtua yang tidak akan pernah terbayar oleh anaknya.
Demikian teman, tulisan ini adalah renungan untuk kita semua. Bukan bermaksud menggurui, saduran ini adalah salah satu upaya saling menasihati dan mengingatkan. Ketika datang masalah atau cobaan setelah kita mendatangi Allah SWT, datangilah orangtua kita untuk meminta dukungan dan doanya. Insya Allah segala urusan menjadi mudah.
Terakhir, jujur diri dan koreksi diri, lalu adakan perbaikan. Semoga kesempatan selalu diberikan Allah SWT.
Sumber : Mansur, Yusuf, Temukan penyebabnya Temukan jawaban, Wisata Hati 2004.







0 komentar:
Posting Komentar