Hingga akhir
1990-an, dalam permainan kanak-kanak di Buton, terdapat istilah “sumpah pogoso”
atau sumpah bibir pecah yang digunakan untuk menguji kebohongan teman
sepermainan. Ternyata, sumpah itu berasal dari hikayat pelarian Arung Palakka
di Kesultanan Buton di abad ke-17.
Kolera dan tipus
mungkin sudah biasa kita dengar legenda dan kisah keganasannya bila sudah
mewabah. Dalam cerita sejarah, pendiri kota Batavia, Jan Pieterzoon Coen,
disebut-sebut mati pada September 1629 dikarenakan kolera. Sementara dalam cerita
fiksi, wabah tipus dijadikan latar novel Frankenstein. Tapi pernahkah anda
membayangkan kalau sariawan atau bibir pecah-pecah melanda di satu wilayah?
Mendengarnya
sepintas memang terasa lucu. Untungnya juga malapetaka itu tidak pernah
terjadi. Tapi seandainya saja Arung Palakka ketika lari ke Buton tidak
bersembunyi di dalam gua, maka, bisa jadi, seluruh wilayah Kesultanan Buton
ketika itu dilanda “pogoso” atau bibir pecah-pecah. Siapa yang tahu!
“Saya
tidak bohong. Tapi kalau benar Arung Palakka ada di atas tanah Buton, saya
bersumpah seluruh rakyat Buton akan terkena “pogoso”,? begitulah kira-kira
rekaan sumpah yang diucapkan sultan yang memerintah Buton mulai 1654-1664
kepada rombongan pasukan itu.
Buton
memang tidak termakan sumpah. Soalnya Arung Palakka yang bergelar “Petta
MelampeE Gemme’na” (Pangeran yang Berambut Panjang) itu bersembunyi di sebuah
gua yang terletak di dinding tebing timur Benteng Wolio. Bukannya di “atas”
tanah Buton!
Hingga
kini, gua persembunyian Arung Palakka itu bisa terlihat jelas. Jalanan setapak
di bibir tebing curam di sekitarnya sudah disemen untuk memudahkan orang
mencapai dan melihat gua yang ada dalam perlindungan benteng seluas 22,8 hektar
dan disebut-sebut sebagai benteng terluas di dunia itu.
Di
Buton, Arung Palakka dikenal dengan nama Latoondu. Bisa jadi ini adalah nama
dari pelisanan yang dilakukan “lidah lokal” dari dua kata “La” (awalan untuk
nama laki-laki di masyarakat Buton) dan “Tounru” (Sang Penakluk, salah satu
gelar Arung Palakka). Karenanya, gua persembunyian bangsawan Bone itu dinamai
Liana Latoondu.
Leonard
Y Andaya dalam bukunya Warisan Arung Palakka menyebut, menurut sumber Belanda
(Speelman) dan catatan harian Raja-raja Gowa dan Tallo, peristiwa ini terjadi
sekitar akhir tahun 1660 dan awal 1661, tatkala Raja Bone-Soppeng itu melarikan
diri ke Butung atau Buton, membawa keluarga, dan para pengikutnya.
Perlindungan
yang diberikan Sultan Buton ternyata terus dikenang dan menjadi dendam tersendiri
bagi Gowa. Pada 1666, Sultan Hasanuddin mengirim armada berkekuatan 20.000
personil untuk menghantam Buton karena alasan itu.
Jejak
lainnya yang berkaitan dengan cerita pelarian Arung Palakka juga terlihat jelas
dari Benteng Wolio yang mengelilingi Keraton Kesultanan Buton. Bila kita
melepas pandang ke Teluk Baubau, terdapat pulau kecil yang diapit Pulau Buton
dan Pulau Muna. Nama pulau itu adalah Pulau Makassar, yang letaknya hanya
sekitar 10 menit menggunakan perahu bermesin dari Baubau.
Ada beberapa
versi untuk menjelaskan perihal penamaan “Makassar” untuk pulau berbentuk
lingkaran tersebut. Pertama, karena di sanalah tempat para hulubalang dan
pendamping Arung Palakka diberi tempat bermukim oleh Sultan Buton karena enggan
lagi kembali ke tanah Bugis.
Versi
lainnya mengatakan, pulau seluas 104 kilometer persegi itu diberi nama serupa
ibukota Sulawesi Selatan itu karena di sanalah para pasukan Sultan Hasanuddin
diberi wilayah permukiman. Sepasukan prajurit itu enggan pulang ke Gowa
lantaran gagal menemukan buronan nomor satu Gowa, Arung Palakka. Apalagi jika
mereka gagal, berarti hukuman menanti dari raja.
Hingga
akhir 1990-an, dalam permainan kanak-kanak di Buton, terdapat istilah “sumpah
pogoso” atau sumpah bibir pecah yang digunakan untuk menguji kebohongan teman
sepermainan. Ternyata, sumpah itu berasal dari hikayat pelarian Arung Palakka
di Kesultanan Buton di abad ke-17. Kolera dan tipus mungkin sudah biasa kita
dengar legenda dan kisah keganasannya bila sudah mewabah. Dalam cerita sejarah,
pendiri kota Batavia, Jan Pieterzoon Coen, disebut-sebut mati pada September
1629 dikarenakan kolera. Sementara dalam cerita fiksi, wabah tipus dijadikan
latar novel Frankenstein. Tapi pernahkah anda membayangkan kalau sariawan atau
bibir pecah-pecah melanda di satu wilayah? Mendengarnya sepintas memang terasa
lucu. Untungnya juga malapetaka itu tidak pernah terjadi. Tapi seandainya saja
Arung Palakka ketika lari ke Buton tidak bersembunyi di dalam gua, maka, bisa
jadi, seluruh wilayah Kesultanan Buton ketika itu dilanda “pogoso” atau bibir
pecah-pecah. Siapa yang tahu!
Sumpah
“pogoso” sendiri, setidaknya hingga tahun 1990-an, masih dipakai oleh
kanak-kanak setempat bilamana mereka hendak menguji bohong atau tidaknya kawan
sepermainannya.








0 komentar:
Posting Komentar