15 Februari 2013

Virus Corona Mewabah


Mikroba adalah predator manusia. Mereka akan mengalahkan umat manusia jika kita, ”Homo Sapiens”, tidak pernah mau belajar bagaimana hidup rasional di kampung global agar mikroba sulit menyerang.

Laurie Garrett, Penerima Pulitzer 1996

Perjuangan menghadapi mikroba kelihatannya memang masih panjang. Sebagai makhluk tertinggi dalam rantai makanan, manusia ternyata sering tak berdaya menghadapi makhluk hidup yang tidak kasatmata ini meski memiliki segala kemajuan sains dan teknologi.

Adalah manusia pula yang menyebabkan mikroba keluar dari habitatnya. Kerusakan ekosistem akibat pembabatan hutan, pertanian dan peternakan monokultur, kepadatan penduduk, serta mobilitas manusia yang luar biasa akibat kemajuan transportasi membuat puluhan virus penyakit baru tidak hanya bermunculan, tetapi juga mendunia.

Ketika cacar hilang, AIDS datang. Ketika AIDS mulai dapat diatasi, masih ada ebola, SARS, dan flu burung yang timbul-tenggelam, tetapi belum tertangani sepenuhnya.

September ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan, seorang laki-laki berusia 49 tahun telah dirujuk dari Qatar ke rumah sakit di London, Inggris, dengan masalah gagal napas dan gagal ginjal. Pada hasil kulturnya ditemukan virus corona jenis baru. Ia adalah pasien kedua yang dipastikan terinfeksi virus corona. Pasien pertama, berusia 60 tahun, meninggal di Arab Saudi.

Corona dan SARS

SARS, singkatan dari severe acute respiratory syndrome atau sindrom pernapasan akut parah, adalah contoh nyata penyebaran penyakit yang begitu cepat akibat mudahnya perpindahan manusia dengan sarana transportasi modern.

Mulai dideteksi di Hongkong pada awal tahun 2003, SARS dengan cepat memicu 8.500 kasus di hampir 40 negara. Hanya dalam hitungan minggu, 900 orang meninggal. Inilah penyakit yang paling cepat penyebarannya ke seluruh dunia.

Kecepatan ini memicu respons tercepat pula untuk mengidentifikasi penyebabnya sekaligus terbanyak melibatkan ilmuwan. WHO memastikan virus corona sebagai penyebab SARS pada pertengahan April 2003.

Para peneliti kemudian mengusulkan agar virus itu dinamai corona terkait SARS Urbani (Urbani SARS-associated coronavirus) untuk mengenang dr. Carlo Urbani. Ia adalah ahli penyakit menular WHO yang pertama kali mengenali dan sekaligus menjadi korban keganasan SARS. Namun, secara resmi WHO menyebutnya sebagai virus SARS.

korona

Meskipun demikian, penemuan virus corona masih jauh dari temuan obatnya. Sama seperti AIDS yang membutuhkan waktu lebih kurang 30 tahun untuk mendapatkan obat yang tepat, SARS mungkin juga perlu waktu karena virus corona manusia (HCV) terkenal sulit ditumbuhkan dalam biakan sel.

Spesifik

HCV bersifat hospes spesifik, artinya hanya dapat menulari manusia sehingga sulit dicoba pada hewan percobaan. Virus corona manusia sebelum SARS yang dikenal sebagai HCV-229E dan HCV-OC43, sebagai contoh, baru bisa diisolasi dengan menggunakan sel embrio manusia. Sementara virus SARS berhasil diisolasi menggunakan garis sel Vero E6.

Kini, sembilan tahun kemudian, virus yang mirip corona pemicu SARS kembali ditemukan. Peter Openshaw, Direktur Centre for Respiratory Infection di Imperial College, London, menyatakan kepada Reuters bahwa pada tahap ini sepertinya virus itu tidak terlalu memicu kekhawatiran.

”SARS begitu cepat menginfeksi para petugas kesehatan di rumah sakit, sedangkan virus baru ini—meskipun mirip—tidak menunjukkan gejala serupa,” kata Prof. John Oxford, Virolog di Queen Mary, University of London, seperti yang dikutip BBC News.

Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Indonesia, virus corona adalah penyebab infeksi saluran napas pada manusia. Sebagian besar dalam bentuk yang amat ringan walau ada juga bentuk yang berat dan menyebabkan kematian, seperti virus SARS.

”Pada dua kasus terakhir penyebabnya bukan corona SARS. Untuk sementara virus yang ditemukan disebut virus mirip SARS dan penyakitnya disebut penyakit mirip SARS,” ujar Tjandra.

Saat ini semua yang pernah kontak dengan kedua pasien di atas terus diamati, termasuk para petugas kesehatan yang menangani. Karena sejauh ini belum ada penularan, virus corona jenis baru tersebut juga disimpulkan tidak terbukti bisa menular antarmanusia.

Upaya Preventif

Tjandra lebih lanjut mengungkapkan, ia sudah mengontak langsung Direktur Jenderal WHO Dr. Keiji Fukuda. Informasi yang mungkin diperlukan masyarakat adalah saat ini WHO belum mengeluarkan pembatasan perjalanan. Yang terpenting adalah peningkatan surveilans. Maka, Kementerian Kesehatan telah menginformasikan kepada semua kantor kesehatan pelabuhan tentang surveilans kejadian ini.

Selanjutnya Kementerian Kesehatan Arab Saudi, yang juga dihubungi Pemerintah Indonesia, menyatakan bahwa kasus tersebut sangat jarang sehingga tidak perlu terlalu khawatir. Pada musim haji ini masyarakat diminta melakukan pencegahan seperlunya dengan meningkatkan higiene personal dan memakai masker di kawasan padat.

”Kementerian Kesehatan juga sejak kemarin terus berkomunikasi dengan para petugas kesehatan haji kita di Arab Saudi dan memberikan arahan yang diperlukan, termasuk mengingatkan untuk berkoordinasi terus dengan aparat kesehatan setempat,” kata Tjandra.

Rene Dubos dalam bukunya, Mirage of Health (1959), mengingatkan bahwa bebas total dari perjuangan melawan penyakit tidak akan terjadi karena itu tidak sejalan dengan berlangsungnya proses kehidupan. Maka, manusia tampaknya harus belajar lebih bijak agar bisa hidup selaras dengan alam. (kompas)

Penemuan Kuil Api, Kuil Pembakaran Mayat Tertua di Dunia



Peru bisa dibilang sebagai salah satu negara yang memiliki banyak peninggalan sejarah di dunia. Belakangan ini, para ilmuan dan arkeolog menemukan sebuah kuil yang diperkirakan berusia 5.000 tahun di situs arkeologi El Paraiso, Peru.

Penemuan tersebut diumumkan oleh Kementerian Kebudayaan Peru. Jika hasil penanggalan umur kuil ini terkonfirmasi kebenarannya, kuil ini menjadi salah satu kuil tertua di dunia, sebanding dengan situs lain di kota tua Caral, kota pinggir pantai yang terletak 200 km utara Lima.

Arkeolog menamakan kuil ini sebagai Kuil Api (Temple of Fire). Hal ini dilatarbelakangi oleh temuan perapian yang menjadi bagian utama kuil. Perapian itu diduga digunakan untuk upacara pembakaran mayat.

“Asap dari pembakaran akan menghubungkan imam kuil tersebut dengan Tuhan,” Kata Marco Guillen, pemimpin tim penelitian, seperti dikutip AFP, Rabu (13/2/2013).

Kuil tersebut ditemukan pada pertengahan Januari. Kala itu, arkeolog sedang melakukan kerja konservasi di reruntuhan situs piramida tua berusia 4000 tahun, El Paraiso. Situs ini terletak cuma 40 km dari ibukota Peru, Lima.

Deputi Menteri Kebudayaan Peru, Rafael Varon, mengatakan, hasil penemuan ini menunjukkan bahwa Lima pusat peradaban Andes di masa lalu.

Para arkeolog percaya, peradaban pesisir Peru di masa lampau bertahan hidup dengan menumbuhkan berbagai jenis tanaman termasuk kapas. Kapas kemudian dibarter dengan nelayan untuk mendapatkan makanan.

Situs El Paraiso, tersebar hingga 50 hektar. Situs ini memiliki 10 bangunan dan merupakan salah satu dari situs masa lampau terbesar yang berada di pusat Peru.

Sumber : www.menits.com

Meteor Kecepatan 54.000 Km/Jam Jatuh di Rusia


Moskow - Russian Academy of Sciences menyatakan meteor yang jatuh di negaranya diperkirakan seberat 10 ton dan melesat dengan kecepatan supersonik di atas Pegunungan Ural Rusia. Meteor itu diduga memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan 54 ribu km per jam dan hancur dengan sebaran meliputi wilayah seluas 30-50 kilometer.

Menurut lembaga Russian Academy of Sciences ini, jatuhnya meteor ini disertai ledakan hebat akibat gesekan dengan tamosfer, hal yang diduga menyebabkan pecahnya kaca-kaca bangunan di wilayah yang terkena dampak. Biro Penanggulangan Bencana Rusia mengatakan lebih dari 500 orang terluka.

"Terjadi kepanikan, seakan sebuah bom jatuh di wilayah itu. Orang tidak tahu apa yang terjadi. Semua orang akan berkeliling ke rumah-rumah penduduk untuk memeriksa apakah mereka baik-baik saja," kata Sergey Hametov, penduduk Chelyabinsk, sekitar 1.500 kilometer timur Moskow, wilayah yang paling terkena dampak jatuhnya meteor. 

Beberapa pecahan meteor jatuh di waduk di luar kota Cherbakul, menurut kantor berita Itar-Tass. Mengutip juru bicara militer Yarslavl Roshupkin, ditemukan kawah selebar 6 meter di lokasi jatuhnya meteor. 

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Vadim Kolesnikov, mengatakan sekitar 600 meter persegi atap di sebuah pabrik seng runtuh. Tidak ada klarifikasi langsung apakah keruntuhan itu disebabkan oleh meteor atau oleh gelombang kejut dari ledakan.

Laporan yang saling bertentangan muncul soal jatuhnya meteor ini. Seorang juru bicara Kementerian Darurat, Irina Rossius, mengatakan kepada The Associated Press bahwa ada hujan meteor. Tapi kantor berita Interfax yang mengutip pernyataan seorang pejabat menyatakan meteor yang jatuh adalah tunggal.

Meteor Jatuh di Danau Rusia


Meteor Rusia Ternyata Jatuh di Danau
Bencana melanda Rusia, di mana sebuah meteor dilaporkan jatuh kawasan berpenduduk di Rusia bagian tengah. Keterangan pemerintah menyebutkan meteor itu jatuh ke danau. "Meteor melintas di atas kawasan Chelyabinsk, jatuh di genangan air yang terletak 1 kilometer dari Kota Chebarkul," kata Gubernur Chelyabinsk, Mikhail Yurevich, Jumat, 15 Februari 2013.

Meteorit jatuh melintasi langit Rusia sehingga meninggalkan jejak panjang serupa asap berwarna putih di belakangnya yang bisa dilihat sejauh 200 kilometer di Yekaterinburg. Alarm mobil berbunyi, jendela hancur, dan sinyal ponsel terganggu.

Lembaga penerbangan dan antariksa Rusia (Roscosmos) mengkonfirmasi benda yang jatuh tersebut adalah meteorit. Ketika menghujam atmosfer, batu angkasa tersebut bergerak pada kecepatan 30 kilometer per detik. "Terbang rendah," ujar pejabat Roscosmos.

Laporan sejauh ini menyebutkan serpihan batu angkasa menyebar di kawasan Chelyabinsk, Tyumen, Kurgan, dan Sverdlovsk. Lembaga kebencanaan Kazakstan dilaporkan ikut mencari dua kepingan tak teridentifikasi di Provinsi Aktobe. Kazakstan merupakan negara yang berbatasan dengan Rusia.

Sebelumnya diberitakan 400 orang terluka ketika "hujan" meteorit turun di langit Rusia tengah pada Jumat. Bola-bola api tak hanya merusak beberapa bagian rumah, tetapi juga membunyikan alarm mobil-mobil yang terparkir.

Para korban, yang sebagian besar dalam perjalanan mereka ke tempat kerja di Chelyabinsk, melihat cahaya terang dan mendengar suara seperti ledakan diikuti gelombang kejut. Lokasi meteor jatuh adalah kota industri yang terletak 1.500 kilometer sebelah timur Moskow.

Sumber : www.tempo.co

Benteng Terluas di Dunia, Benteng Keraton Wolio - Buton


Jika China punya Great Wall, maka Indonesia punya Benteng Keraton Buton. Terletak di Bau-bau, Sulawesi Tenggara, benteng ini memiliki luas sekitar 23 hektar dan memanjang hingga 3 kilometer. Tempat yang indah dan bersejarah. Benteng Keraton Buton di Bau-bau juga tak kalah mirip dengan Tembok China. Mirip dengan Tembok China, Benteng Keraton Buton juga berfungsi untuk melindungi masyarakatnya dari serangan luar.

Benteng ini memiliki panjang mencapai 3 kilometer dengan tinggi tembok rata-rata 4 meter dan ketebalan 2 meter. Pada tahun 2006, Benteng Buton mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guiness Book Record sebagai benteng terluas di dunia dengan luas 23,375 hektar. 

Selain bentuknya yang megah, benteng ini juga menyimpan banyak sejarah tentang Kesultanan Buton. Benteng Keraton Buton yang aslinya disebut Keraton Wolio ini dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin yang berjuluk Sania Mangkekuna (1591-1596). Benteng ini diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Buton VI, La Buke atau Gafurul Wadudu pada tahun 1632–1645. Benteng tersebut berbentuk huruf dhal pada abjad Arab. 

Benteng Keraton Buton dibangun dengan cara yang unik dan berbeda dari benteng manapun di dunia. Benteng Keraton Buton tersusun dari batu-batu gunung (batu gamping atau batu kapur) dan direkatkan dengan perekat alami berbahan rumput laut dan adonan kapur dicampur cairan putih telur. Benteng ini dibangun di puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal. Oleh sebab itu, benteng ini layak disebut sebagai benteng dengan pertahanan terbaik di dunia.

Tidak hanya untuk pertahanan, di dalam kawasan benteng terdapat permukiman penduduk yang merupakan pewaris keturunan dari para keluarga bangsawan Keraton Buton masa lalu. Ada juga peninggalan-peninggalan dari ratusan silam, seperti masjid tua, meriam kuno, dan tiang bendera.

Selain bahan bangunannya yang unik, benteng ini juga punya banyak makna di tiap sudut bangunannya. Salah satunya adalah terdapat 12 lubang (pintu masuk benteng) atau Lawa. 12 lubang tersebut menggambarkan jumlah lubang dalam tubuh manusia dan 16 pos jaga atau Bastion yang setiap pintu gerbangnya di tempatkan sejumlah meriam. Sumber lain menyebutkan bahwa jumlah pos jaga sebenarnya adalah 17 yang melambangkan jumlah rakaat dalam sholat fardhu umat Islam. Memang, semua bangunan di dalam Benteng Wolio syarat akan makna-makna religius dan sosial yang sangat kuat saat itu.

img

Melengkapi kemegahan Benteng Wolio, di dalamnya terdapat pula Masjid Agung Keraton (Masigi Ogena), didirikan oleh Sultan Buton XIX Sakiuddin Durul Alam atau Langkariyri pada awal abad 17. Masjid dua lantai berukuran 20,6 x 19,4 M² ini berperanan sebagai pusat kegiatan keagamaan kesultanan. Saat ini pun, masjid keraton ini masih digunakan untuk sarana peribadatan sehari-hari. Bahkan, di saat bulan Ramadhan masjid selalu penuh dengan jamaah yang beribadah, menunaikan berbuka dan sahur bersama di bagian selatan selasar. Material sebagai bahan baku untuk membangun masjid sama dengan bahan baku pembuatan benteng, yaitu campuran dari batu kapur dan pasir.

img

Keunikan masjid ini adalah  jumlah pintunya sebanyak 12 buah dan tersusun atas 313 potong kayu yang identik dengan simbol 12 lubang pada tubuh manusia berikut jumlah tulang yang terdapat di dalamnya. Anak tangga masjid sebanyak 17 buah plus dua buah anak tangga tambahan, identik dengan jumlah rakaat shalat fardhu dan shalat sunnah. Masjid ini pula memiliki sebuah bedug dengan panjang 99 cm yang melambangkan Asmaul Husna. Karena usianya yang cukup tua, renovasi pun dilakukan pada tahun 1929. Saat itu, atap daun nipah yang selalu ditambal sulam selama dua ratus tahun diganti dengan atap seng. Berturut-turut selanjutnya tahun 1978, 1986 dan terakhir tahun 2002 renovasi dilakukan untuk mempertahankan keutuhan masjid hingga tampak seperti saat ini.

Melayangkan pandangan ke sekeliling masjid, kita akan menemukan pemandangan apik dan lingkungan yang asri. Tepat di sebelah masjid berdiri sebuah tiang kayu yang berjuluk Kasulaana Tombi, menjulang setinggi 21 meter yang digunakan untuk mengibarkan tombi atau bendera panji Buton yaitu Longa‐Longa. Hingga saat ini kondisi tiang yang sudah berusia 200 tahun lebih ini masih cukup baik walaupun sudah agak miring dan lapuk dimakan usia. Di hadapan masjid, kita akan menemukan situs bersejarah batu Popaua yang digunakan sebagai tempat pelantikan ratu pertama Wa Kaa Kaa dan tradisi tersebut masih diteruskan oleh Sultan Buton berikutnya hingga saat ini. Di sebelahnya juga terdapat pula Baruga yang berbentuk bangunan besar dari kayu tanpa dinding yang digunakan sebagai tempat pertemuan dan membahas berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan masyarakat.


Benteng Keraton Buton dapat menjadi destinasi Anda berikutnya saat berkunjung ke Bau-bau, Sulawesi Tenggara. Anda dapat menjelajahi benteng ini dan menyaksikan langsung Benteng terluas di dunia.

Referensi : dr.L.M.Fatahillah,M.Kes,Sp.S bin Ir.H.L.M.Syamsul Kamar,M.T