Mikroba adalah predator manusia. Mereka akan mengalahkan umat manusia jika kita, ”Homo Sapiens”, tidak pernah mau belajar bagaimana hidup rasional di kampung global agar mikroba sulit menyerang.
Laurie Garrett, Penerima Pulitzer 1996
Perjuangan menghadapi mikroba kelihatannya memang masih panjang. Sebagai makhluk tertinggi dalam rantai makanan, manusia ternyata sering tak berdaya menghadapi makhluk hidup yang tidak kasatmata ini meski memiliki segala kemajuan sains dan teknologi.
Adalah manusia pula yang menyebabkan mikroba keluar dari habitatnya. Kerusakan ekosistem akibat pembabatan hutan, pertanian dan peternakan monokultur, kepadatan penduduk, serta mobilitas manusia yang luar biasa akibat kemajuan transportasi membuat puluhan virus penyakit baru tidak hanya bermunculan, tetapi juga mendunia.
Ketika cacar hilang, AIDS datang. Ketika AIDS mulai dapat diatasi, masih ada ebola, SARS, dan flu burung yang timbul-tenggelam, tetapi belum tertangani sepenuhnya.
September ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan, seorang laki-laki berusia 49 tahun telah dirujuk dari Qatar ke rumah sakit di London, Inggris, dengan masalah gagal napas dan gagal ginjal. Pada hasil kulturnya ditemukan virus corona jenis baru. Ia adalah pasien kedua yang dipastikan terinfeksi virus corona. Pasien pertama, berusia 60 tahun, meninggal di Arab Saudi.
Corona dan SARS
SARS, singkatan dari severe acute respiratory syndrome atau sindrom pernapasan akut parah, adalah contoh nyata penyebaran penyakit yang begitu cepat akibat mudahnya perpindahan manusia dengan sarana transportasi modern.
Mulai dideteksi di Hongkong pada awal tahun 2003, SARS dengan cepat memicu 8.500 kasus di hampir 40 negara. Hanya dalam hitungan minggu, 900 orang meninggal. Inilah penyakit yang paling cepat penyebarannya ke seluruh dunia.
Kecepatan ini memicu respons tercepat pula untuk mengidentifikasi penyebabnya sekaligus terbanyak melibatkan ilmuwan. WHO memastikan virus corona sebagai penyebab SARS pada pertengahan April 2003.
Para peneliti kemudian mengusulkan agar virus itu dinamai corona terkait SARS Urbani (Urbani SARS-associated coronavirus) untuk mengenang dr. Carlo Urbani. Ia adalah ahli penyakit menular WHO yang pertama kali mengenali dan sekaligus menjadi korban keganasan SARS. Namun, secara resmi WHO menyebutnya sebagai virus SARS.
Meskipun demikian, penemuan virus corona masih jauh dari temuan obatnya. Sama seperti AIDS yang membutuhkan waktu lebih kurang 30 tahun untuk mendapatkan obat yang tepat, SARS mungkin juga perlu waktu karena virus corona manusia (HCV) terkenal sulit ditumbuhkan dalam biakan sel.
Spesifik
HCV bersifat hospes spesifik, artinya hanya dapat menulari manusia sehingga sulit dicoba pada hewan percobaan. Virus corona manusia sebelum SARS yang dikenal sebagai HCV-229E dan HCV-OC43, sebagai contoh, baru bisa diisolasi dengan menggunakan sel embrio manusia. Sementara virus SARS berhasil diisolasi menggunakan garis sel Vero E6.
Kini, sembilan tahun kemudian, virus yang mirip corona pemicu SARS kembali ditemukan. Peter Openshaw, Direktur Centre for Respiratory Infection di Imperial College, London, menyatakan kepada Reuters bahwa pada tahap ini sepertinya virus itu tidak terlalu memicu kekhawatiran.
”SARS begitu cepat menginfeksi para petugas kesehatan di rumah sakit, sedangkan virus baru ini—meskipun mirip—tidak menunjukkan gejala serupa,” kata Prof. John Oxford, Virolog di Queen Mary, University of London, seperti yang dikutip BBC News.
Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Indonesia, virus corona adalah penyebab infeksi saluran napas pada manusia. Sebagian besar dalam bentuk yang amat ringan walau ada juga bentuk yang berat dan menyebabkan kematian, seperti virus SARS.
”Pada dua kasus terakhir penyebabnya bukan corona SARS. Untuk sementara virus yang ditemukan disebut virus mirip SARS dan penyakitnya disebut penyakit mirip SARS,” ujar Tjandra.
Saat ini semua yang pernah kontak dengan kedua pasien di atas terus diamati, termasuk para petugas kesehatan yang menangani. Karena sejauh ini belum ada penularan, virus corona jenis baru tersebut juga disimpulkan tidak terbukti bisa menular antarmanusia.
Upaya Preventif
Tjandra lebih lanjut mengungkapkan, ia sudah mengontak langsung Direktur Jenderal WHO Dr. Keiji Fukuda. Informasi yang mungkin diperlukan masyarakat adalah saat ini WHO belum mengeluarkan pembatasan perjalanan. Yang terpenting adalah peningkatan surveilans. Maka, Kementerian Kesehatan telah menginformasikan kepada semua kantor kesehatan pelabuhan tentang surveilans kejadian ini.
Selanjutnya Kementerian Kesehatan Arab Saudi, yang juga dihubungi Pemerintah Indonesia, menyatakan bahwa kasus tersebut sangat jarang sehingga tidak perlu terlalu khawatir. Pada musim haji ini masyarakat diminta melakukan pencegahan seperlunya dengan meningkatkan higiene personal dan memakai masker di kawasan padat.
”Kementerian Kesehatan juga sejak kemarin terus berkomunikasi dengan para petugas kesehatan haji kita di Arab Saudi dan memberikan arahan yang diperlukan, termasuk mengingatkan untuk berkoordinasi terus dengan aparat kesehatan setempat,” kata Tjandra.
Rene Dubos dalam bukunya, Mirage of Health (1959), mengingatkan bahwa bebas total dari perjuangan melawan penyakit tidak akan terjadi karena itu tidak sejalan dengan berlangsungnya proses kehidupan. Maka, manusia tampaknya harus belajar lebih bijak agar bisa hidup selaras dengan alam. (kompas)







1 komentar:
travel warning...
Posting Komentar